Jumat, 01 Februari 2013

Reseptor Adrenergic


TUGAS

ANOTOMI FISIOLOGI MANUSIA









OLEH :

NAMA        : IKA ASRIANI ZAINAF
NIM            : 70100111035
KELAS       : FARMASI.A1
                                    
JURUSAN FARMASI FIKES
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

SAMATA – GOWA
2012
Penemuan keluarga reseptor pintar mengantarkan dua pakar biomolekuler, Robert J. Lefkowitz dan Brian K. Kobilka, meraih hadiah Nobel Kimia 2012. Keduanya berhasil menguak cara kerja reseptor, yaitu sel atau saraf penerima rangsangan yang berperan penting bagi setiap sel dalam tubuh manusia. Temuan ini membantu kita membuat obat yang efektif di masa mendatang," kata Majelis Nobel dalam konferensi pers di Institut Karolinska, Stockholm, Swedia, Rabu, 10 Oktober 2012.Tubuh manusia merupakan sistem kompleks yang terbentuk dari interaksi miliaran sel. Setiap sel memiliki reseptor kecil yang memungkinkan untuk merasakan kondisi lingkungannya sehingga dapat beradaptasi dengan situasi baru.Interaksi sel dengan lingkungannya menjadi misteri.Para ilmuwan, misalnya, mengetahui hormon adrenalin memiliki efek yang kuat, yakni meningkatkan tekanan darah dan membuat jantung berdetak lebih cepat.Mereka menduga permukaan sel mengandung semacam penerima adrenalin yang memicu denyut jantung.  Namun, seperti apa reseptor itu dan bagaimana mereka bekerja, tetap menjadi misteri hingga temuan Lefkowitz dan Kobilka mengungkap rahasia tersebut dan menjawab bagaimana sel merasakan lingkungan mereka. "Reseptor ini terletak di membran sel dan memberi tahu sel apa yang terjadi di lingkungan luar sel," kata Majelis Nobel.Lefkowitz dan Kobilka sama-sama berasal dari Amerika Serikat.Lefkowitz, profesor dari Howard Hughes Medical Institute and Duke University Medical Center, Durham, mengawali karyanIa menempelkan sebuah isotop yodium ke berbagai hormon. Dan berkat radiasi, ia berhasil mengungkap beberapa reseptor, salah satunya adalah ß-adrenergik, reseptor untuk hormon adrenalin. Lefkowitz dan timnya lantas mengekstraksi reseptor dari tempat persembunyiannya dididing sel dan memperoleh pemahaman awal tentang cara kerjanya.
Kerja Lefkowitz disempurnakan Kobilka selama 1980-an. Profesor di Stanford University School of Medicine, Stanford, ini berhasil mengisolasi gen yang mengkode reseptor ß-adrenergik dari genom manusia. Hasil analisis gen menunjukkan bahwa ß-adrenergik mirip dengan yang dijumpai di mata, yang berfungsi menangkap cahaya.
"Mereka menyadari ada sebuah keluarga seluruh reseptor yang bentuk dan fungsinya sama," ujar para juri. Reseptor-reseptor yang sama tersebut disebut sebagai "G-protein-coupled receptors".
Ada ribuan kode gen untuk seluruh reseptor tersebut. Misalnya, untuk cahaya, rasa, bau, adrenalin, histamin, dopamin, dan serotonin.Sekitar setengah dari semua obat mencapai efek yang diinginkan melalui reseptor-reseptor ini.Temuan ini sangat berguna untuk pengobatan, mulai dari Parkinson, migrain, tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit lain.ya pada 1968.Kala itu, dia menggunakan radioaktivitas untuk melacak reseptor sel. Lefkowitz dan Kobilka sama-sama berasal dari Amerika Serikat.Lefkowitz, profesor dari Howard Hughes Medical Institute and Duke University Medical Center, Durham, mengawali karyanya pada 1968. Kala itu, dia menggunakan radioaktivitas untuk melacak reseptor sel. Ia menempelkan sebuah isotop yodium ke berbagai hormon. Dan berkat radiasi, ia berhasil mengungkap beberapa reseptor, salah satunya adalah ß-adrenergik, reseptor untuk hormon adrenalin. Lefkowitz dan timnya lantas mengekstraksi reseptor dari tempat persembunyiannya di dinding sel dan memperoleh pemahaman awal tentang cara kerjanya. Kerja Lefkowitz disempurnakan Kobilka selama 1980-an. Profesor di Stanford University School of Medicine, Stanford, ini berhasil mengisolasi gen yang mengkode reseptor ß-adrenergik dari genom manusia. Hasil analisis gen menunjukkan bahwa ß-adrenergik mirip dengan yang dijumpai di mata, yang berfungsi menangkap cahaya. "Mereka menyadari ada sebuah keluarga seluruh reseptor yang bentuk dan fungsinya sama," ujar para juri. Reseptor-reseptor yang sama tersebut disebut sebagai "G-protein-coupled receptors". Ada ribuan kode gen untuk seluruh reseptor tersebut. Misalnya, untuk cahaya, rasa, bau, adrenalin, histamin, dopamin, dan serotonin.Sekitar setengah dari semua obat mencapai efek yang diinginkan melalui reseptor-reseptor ini. Temuan ini sangat berguna untuk pengobatan, mulai dari Parkinson, migrain, tekanan darah tinggi, dan penyakit-penyakit lain.
Senyawa adrenergic disebut juga dengan adrenimimetik adalah senyawa yang dapat menghasilkan efek serupa dengan respon akibat rangsangan pada system syaraf adrenergic. System syaraf adrenergic adalah cabang disebut juga dengan nama adremimetik, perangsang adrenergic, simpatatomimetik atau perangsang simpatetik.System syaraf otonom dan mempunyai neurotransmitter yaitu norrepinefrin.
Reseptor adrenergic, dibagi menjadi 2 :
1.       Reseptor alfa adrenergic, dibagi menjadi :
a.       Alfa-1 adrenergik
Menyebabkan vasokonstriksi pada pembuluh darah, saluran gastrointestinal, vasodilatasi otot bronkus (efeknya lebih kecil disbanding beta-2)
b.       Alfa-2 adrenergik
Fungsi dari reseptor ini dapat mengihibisi pelepasan insulin, induksi pelepasan glucagon, konstraksi spincher pada gastro instestinal
2.       Reseptor beta adrenergic, dibagi menjadi 2:
a.       Beta 1 : terdapat di jantung menaikkan heart rate (jumlah denyut jantung per unit waktu), menaikkan konstraksi jantung alfa 1-adrenorreseptor postsinaptik terdapat pada otot polosvaskuler, otot miokardial, sel hepatosit, dan sel adiposity.
b.       Beta 2 : terdapat dipembuluh darah, otot polos skeletal, otot polos bronkus relaksasi otot polos di gastro intestinal dan bronkus, dilatasi arteri, gluconeogenesis. Alfa 2-adrenoreseptor prasinaptik terdapat pada semua organ yang sarafnya dikontrol oleh system saraf simpatetik. Alfa 2-adrenoreseptor postsinaptik terdapat pada otot polos vascular, pancreas,platelet, adiposity, ginjal, melanosit, dan otot polos mata.
OH
 
STRUKTUR UMUM
OH
 
CH-CH—NH-R
         R



 
                                     



            Hubungan struktur dengan aktivitas adrenergic
1.      Struktur yang diperlukan untuk memberikan aktivitas agonis pada reseptor adrenergic adalah sebagai berikut :
·        Struktur induk fenietilamin
·        Substuen 3-hidroksi fenolat pada cincin atau yang lebih baik adalah substituent 3,4 dihidroksifenolat pada cincin.
·        Atom N paling sedikit mempunyai satu atom hydrogen ( R=H atau gugus alkil)
2.      Tiap-tiap gugus mempunyai afinitas terhadap reseptor dan berhubungan dengan aktivitas adrenergic. Reseptor yang terlibat disini adalah reseptor -adrenergik  dan β-adrenergik.
·        Gugus  hidroksi fenolat membantu interaksi obat dengan sisi reseptor melalui ikatan hydrogen atau elektristatik.
·        Gugus hidroksi alcohol dalam bentuk isomer, dapat mengikat reseptor secara serasi melalui ikatan hydrogen atau elektrostatik.
·        Adanya gugus amino dengan OCH3 akan menghilangkan aktivitas adrenergic.
·        Adanya subsitusi gugus alkil yang besar pada atom N akan meningkatkan aktivitas afinitas senyawa terhadap β reseptor dan menurunkan aktivitasnya pada α-reseptor.
·        Pada β-agonis dan β-antagonis mempunyai struktur mirip. Sedangkan pada α-agonis dan α-antagonis kemungkinan mirip kecil karena mereka mengikat paada sisi reseptor yang berbeda.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, senyawa adrenergic terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu adrenomimetik yang bekerja langsung.Adrenomimetik yang bekerja tidak langsung, dan adrenomimetik yang bekerja campuran.
1.      Adremometik yang bekerja secara langsung mekanisme aksinya yaitu obat ini membentuk kompleks reseptor khas. Contoh senyawanya yaitu β-feniletilamin derivattif (epinefrin, norepinefrin, isoproterenol, oximetazolin). Pada makalah ini akan dibahas HKSA dari imidazolin derivative α-agonis. Imidazolin mungkin tidak selektif atau mungkin selektif baik α1natau nα-adrenoreseptor.
2.      Adrenomimetik bekerja tidak langsung yaitu bekerja dengan melepaskan katekolamin terutama norepinefrin dari granul-granul penyimpanan di ujung saraf simpateetik atau menghambat pemasukan norepinefrin pada membrane saraf.
3.      Adrenomimetik bekerja campuran
Adrenomimetik ini dapat menimbulkan efek melalui pengaktifan adrenoreseptor dan melepaska katekolamin dari tempat penyimpanan atau menghambat pemasukan katekolamin.Contoh senyawanya adalah efedrin, fenilpropanolamin, oktopamin.
Reseptor adrenergic
·        α1R : di pembuluh darah di kulit dan system pencernaan, kandung kemih,→ pada respon flight or fight terjadi penurunan aliran poada organ ini→orang takut jadi pucat
·        β1R : tertutama terdapat pada otot jantung→meningkatkan kekuatan dan frekuensidenyut jantung,
·        α2R: terdapat pada ujunhg saraf prsinaptik→ autoreseptor
·         β2R: bronkus, anteriol pada otot rangka,otot polos→relaksasi bronkus.
Diferensiasi lebih lanjut dapat dilakukan menurut efek fisiologisnya yaitu dalam   alfa-1 dan alfa-2 serta beta-1 dan beta-2.Pada umumnya stimulasi dari masing-masing reseptor itu menghasilkan efek-efek sebagai berikut :
·           Alfa-1 : menimbulkan vasokonstriksi dari otot polos dan menstimulasi sel-sel  kelenjar dengan bertambahnya antara lain sekresi liur dan keringat.
·           Alfa-2 :menghambat pelepasan NA pada saraf-saraf adrenegis dengan turunnya tekanan darah. Mungkin pelepasan ACh di saraf kolinergis dalam usus pun terhambat sehingga antara lain menurunnya peristaltic.
·           Beta-1 :memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung ( efek inotrop dan kronotop ).
·           Beta-2 :bronchodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak.
Lokasi reseptor ini umumnya adalah sebagai berikut :
·           alfa-1 dan beta-1 :postsinaptis artinya lewat sinaps di organ efektor
·           alfa-2 dan beta-2:presinaptis dan ekstrasi-naptis yaitu dimuka sinaps atau diluarnya antara lain dikulit otak,rahim,dan pelat-pelat darah. Reseptor-a1 juga terdapat presinaptis.
Sel, organ dan system yang dipengaruhi
Tipe adrenoreseptor
Respon yang ditimbulakn
Jantung
β 1>β2
β 1
β1
β1
Meningkatkan automatimatis
Meningkatkan kecepatan konduksi
Meningkatkan ekstabilitas
Meningkatkan kekuatan kontraksi
Saluran darah
α
β 1
β2
Kontriksi arteri dan vena
Dilatasi arteri coroner
Dilatasi darti kebanyakan arteri
Paru
α
β2>β1
Bronkokontriksi
bronkodilatasi
Otot rangka
β2
Meningkatkan kekuatan dan memeperpanjang kontraksi dari otot yang berkontraksi cepat menurunkan kekuatan dan lama kontraksi dari otot yang berkontraksi lambat
Otot polos
·        Uterus
·        Mata
·        Usus

β2
α
β1

Relaksasi
Midriasis
relaksasi
Sel mast
α
β1
Memperbesar pelepasan mediator anafilaksi
Menghambat pelepasan mediator anafilaksis
Platelet
α2, β
Meningkatkan agregasi
Metabolism
·        Gluconeogenesis
·        Glikogenolisis

·         Lipolysis (adiposity putih)
·        Kalorigenesis(adiposity coklat)


α
α (hati)
β2(jantung)

β1
β1


Mneningkatkan
Meningkatkan
Meningkatkan

Meningkatkan
Meningkatkan

   Sekresi hormone
·        Glukogen
·        Insulin

·        paratiroid


β2
α
β2
β


Meningkatkan

Menghambat

Meningkatkan

Meningkatkan

Rennin
β2
meningkatkan
Pelepasan neurotransmitter
·        Asetilkolin

·        Noradrenalin

Α



α2
β(?β2)

Memudahkan (openghubung saraf otot rangka
Menghambat (simpatetik dari ganglia dan usus)
Menghambat
Memudahkan

Penggolongan berdasarkan efek farmakologis
1.Vasopresor Vasopresor digunakan untuk pengobatan syok, dengan cara mengembagkan jaringan perfusi. Contoh: dobutamin HCl, isoproterenol HCl, metaraminol bitartrat, fenilefrin HCln dan norepinefrin bitartrat.2.Bronkodilator Beberapa senyawa yang mengaktikan β-reseptor, mempunyai kekhasan tinggi terhadapβ
2     Reseptor, dapat menyebabkan relaksasi otot polos bronki sehingga digunakan sebaai bronkodilator. Contoh: albuterol sulfat, terbutalin sulfat, klenbuterol, metaproterenolsulfat, fenoterol HBr, heksoprenalin sulfat, prokaterol HCL, efedrin, pseudoefedrin,epinefrin dan metoksifenamin.
3.DekongestanSenyawa adrenomimetik tertentu dapat merangsang α-reseptor pada otot polos vaskular,menyebabkan vasokontriksi arteriola pada mukosa hidung dan mengurangi aliran darah pada daerah yang bengkak. Contoh: efedrin HCl, epinefrin, nafazolin HCl dantetrahidrozolin HCl
Dikatakan obat adrenergic karena efek yang ditimbulkannya mirip perangsangan saraf adrenergic, atau mirip efek neurotransmitter norepinefrin dan epinefrin ( yang disebut juga noradrenalin dan adrenalin ). Golongan obat ini disebut juga obat simpatik atau simpatomimetik yaitu zat – zat yang dapat menimbulkan ( sebagian ) efek yang sama dengan stimulasi susunan simpaticus ( SS ) dan melepaskan noradrenalin ( NA ) di ujung – ujung sarafnya.
Kerja obat adrenergic dapat dikelompokkan dalam 7 jenis yaitu :
1.        Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa, serta kelenjar liur dan keringat.
2.         Penghambatan organ perifer : otot polos usus, bronkus dan pembuluh darah otot rangka
3.        Perangsangan jantung  : dengan akibat peningkatan denyut jantung  dan kekuatan kontraksi
4.         Perangsangan SSP : misalnya perangsangan pernapasan, peningkatan kewaspadaan, aktivitas     psikomotor, dan pengurangan nafsu makan
5.         Efek metabolic : misalnya peningkatan glikogenolisis di hati dan otot, lipolisis dan penglepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak
6.         Efek endokrin : misalnya modulasi sekresi insulin, rennin, dan hormone hipofisis
7.        Efek prasinaptik : dengan akibat hambatan atau peningkatan penglepasan neurotransmitter NE atau Ach ( acetyl colin ).

Contoh obat-obat yang bekerja sebagai antagonis reseptor adrenergic
1.      Reseptor α
·        α1-R antagonis( prazonin,doksazosin)      mengurangi tonus pada kontraksi sel otot pembuluh darah      anthihipertensi
·        α2-R antagonis (yohimbin)      digunakan untuk mengatasi ganguan ereksi pada pria
2.      Reseptor β
·        β1-R antagonis(alprenolol, propranolol) : memblok aktivitas reseptor      mengurangi cAMP di otot jantung       efek inotropik dan kronotropik negatif        menurunkan cardiac out put         antihipertensi

DAFTAR PUSTAKA
zulliesikawati.staff.ugm.ac.id/wp.../adrenergic-dopamine-receptor.pd...

Tidak ada komentar: